BIOGRAFI AYAH
Beliau bernama ARDI , lahir di
Sinjai, Sulawesi Selatan pada tanggal 18
November 1972. Beliau adalah anak
pertama dari tujuh bersaudara , enam yang lainnya adalah perempuan. Ayah beliau bernama
Nurdin, Ibu beliau bernama Miswah , seorang ibu rumah tangga. Beliau merupakan anak laki-laki satu-satu
nya.
Saat SD, beliau pergi ke sekolah
dengan berjalan kaki menempuh jarak 2 km. Meskipun jauh, beliau tetap
menjalaninya dengan suka hati. Beliau sangat suka bermain layang-layang, bola
kaki, dan galah hadang. Beliau bersekolah di SDN 84 Sinjai, Jl. Andi Akbar B.
50 Mangarabombang, SAMATARING, Kec. Sinjai Timur, Kab. Sinjai Prov. Sulawesi
Selatan, atau sekarang di kenal dengan Jl. Pendidikan.
Saat SMP, beliau bersekolah di
SMPN 2 Sinjai , yang ber alamatkan Jl. Muh. Husni Thamrin No. 1, Biringere,
Kec. Sinjai Utara, Kab. Sinjai Prov. Sulawesi Selatan. Beliau mempunyai hobi
membuat kerajinan tangan, menggambar, dan saat SMP Pendidikan Agama Islam dan
Matematika merupakan pelajaran terfavorit beliau.
Lulus SMP, beliau melanjutkannya
ke SMAN 1 Sinjai melalui jalur testing. Tidak mudah untuk masuk ke SMAN 1
Sinjai , karena saingan di sana memang sangat banyak. Saat SMA , beliau tertarik dalam bidang
budaya, sehingga beliau memilih kelas Budaya . Karena lulusan jurusan itu,
beliau sangat terampil dalam mengkreasikan sesuatu. Beliau sangat menyukai
sesuatu yang menantang skill nya.
Lia akui , beliau memang bukan
berasal dari keluarga kaya, tapi ketaatan keluarga beliau akan agama, bisa
dijadikan contoh untuk selalu berpegang teguh kepada perintah Allah SWT.
Setelah lulus SMA, Ayah beliau menyuruh beliau untuk pergi ke
Jakarta , untuk menemui paman nya yang bernama Andi’ . Awalnya beliau berat
untuk meninggalkan kampung halamannya, karena ini kemauan dari ayahnya, maka
beliau pun mengiyakan permintaan ayahnya. Di Jakarta, beliau sudah mulai
mencari pekerjaan. Beliau di Jakarta pernah berkerja sebagai bengkel
elektronik. Beliau juga bisa membenarkan alat elektronik sedidkit. Selang
berapa bulan di Jakarta, beliau mendapatkan kabar bahwa ayahnya meninggal,
beliau sangat terpukul karena itu, disisi lain dia tidak bisa kembali ke Sinjai
untuk melihat pemakaman ayahnya, disisi lain juga, dia merasa bersalah karena
mendengarkan perintah ayahnya untuk meninggalkan kampung halamannya. Tapi
beliau juga berpikir, mungkin semua ini ada hikmahnya, dan beliau kembali fokus
kepekerjaannya dengan rasa sedih di hati.
Setelah berapa setahun
menghabiskan kegiatan dengan menjadi bengkel elektronik, beliau diajak temannya
untuk menjadi nahkoda di suatu kapal. Awalnya beliau menolak, tetapi dengan
rasa penasaran yang tinggi dan ingin mencari pengalaman, akhirnya beliau
memutuskan untuk mengiyakan mengikuti temannya menjadi nahkoda kapal. Sulit
memang bagi beliau untuk memahami jalur laut, terutama laut yang tidak
kelihatan tepi nya. Hanya bermodalkan kompas, nekad dan rasa penasaran yang
tinggi, akhirnya beliau mencoba mendalami bidang barunya itu. Satu bulan yang
di lewati berjalan dengan lancar, karena sejauh ini belum ada tantangan ombak
yang menghadangnya. Beliau berkata , saat itu beliau belum puas , karena bagi
beliau perjalan nya biasa biasa saja, tidak ada kendala yang berarti, sejak
itu, beliau mulai aktif untuk menjadi nahkoda hanya untuk melihat ombak yang
besar. Kata beliau “laut yang tenang tidak akan melahirkan pelaut yang handal”.
Ada benar nya juga sih menurut lia.
Udah hampir jalan dua tahun
beliau menjadi nahkoda, dan beliau merasa waktunya untuk mencari pengalaman
yang baru lagi. Beliau meyakinkan diri untuk pergi kerumah pamannya yang ada di
kalimantan barat, tepatnya di Balinda. Dan berpamitan dari rumah pamannya yang
ada di Jakarta. Saat itu beliau menempuh perjalanan menggunakan kapal, sehingga
beliau memerlukan waktu beberapa hari untuk bisa sampai di pontianak.
Setibanya di Pontianak , beliau
ternyata sudah di tunggu oleh pamannya yang sedari tadi mencarinya. Begitulah
beliau memulai hidupnya di sini. Iya , Pontianak, Kalimantan Barat.
Di Pontianak beliau mulai bekerja
menjadi supir angkot, cukup lama beliau bekerja menjadi supir angkot. Beliau
merupakan sosok laki-laki yang gigih dan pantang menyerah. Dengan umur yang
dibilang cukup mudah pada saat itu, beliau sudah bisa mencari uang untuk
keperluan nya makan sehari-hari. Mungkin pada saat umur segitu, teman-teman
beliau menghaiskan waktu untuk kuliahnya. Tetapi? Beliau? Menghabiskan waktunya
dengan merantau di pulau orang dan meninggalkan tanah kelahirannya.
Beliau hidup sederhana disini,
berdua dengan pamannya di Balinda , sesekali beliau merasa rindu akan sanak
saudaranya. Beliau dikampungnya terkenal dengan sebutan “Daeng” yang artinya “abang”
. Hampir semua keluarga beliau tau akan hal itu. Beliau memiliki keluarga besar
di Sinjai, Sulawesi Selatan. Mungkin saat ini beliau memang harus meninggalkan
kampung halaman nya itu.
Beliau mulai mengenal sesosok
wanita , yang merupakan keturunan Pontianak , wanita itu bernama Nurbaiti. Wanita
kelahiran 25 Mei 1969. Yang merupakan anak ke 4 dari 6 saudara. Wanita itu
bekerja di Cita Rasa Pontianak. Disinilah beliau mengenal wanita itu.
Singkatnya, setelah beliau menikah
dengan wanita itu, beliau mulai melamar pekerjaan di Dinas Perhubugan
Pontianak, melalui jalur testing, beliau bisa lulus seleksi tersebut. Tepat seminggu
setelah melakukan testing dan beliau di nyatakan lulus, akhirnya beliau kerja
tetap di Dinas Perhubungan. Beliau ditempatkan menjadi supir Bus Pelajar,
karena pada zaman itu, bus pelajar merupakan transportasi alternatif yang
digunakan anak-anak sekoah atau yang lainnya untuk sampai ke tempat mereka
menuntut ilmu. Dulu, penggunaan motor dan mobil pribadi masih dibilang minim. Karena
mereka lebih memilih untuk menaiki bus kota atau pun bus sekolah.
Setelah beberapa bulan beliau
kerja di Dinas Perhubungan, akhirnya beliau dan wanita tersebut pulang ke
Sinjai, tanah kelahirannya. Beliau pulang bersama istrinya. Banyak perubahan
yang terjadi di tanah kelahirannya, dan beliau melihat adik-adiknya sudah mulai
besar. Beliau merasa senang pada saat itu, bisa membawa istrinya ke tanah
kelahirannya, dan mengenalkannya bersama keluarganya. Namun beliau tahu, mereka
tidak bisa berlama di sini.
Beliau merupakan sesosok suami
yang bertanggung jawab kepada istri dan anak-anaknya, beliau melakukan apa saja
demi membuat bahagia keluarganya.
mungkin perjuangan sesosok ayah
adalah hasil terbesar kita dalam meraih kesuksesan, ayah yang membiayakan ku
dari aku kecil hingga sekarang ini, kedua orang tua ini , memang merupakan
panutan untuk diriku, agar bisa menjalani hidup dengan tidak hanya memandang
satu sisi saja tetapi juga mempelajari sisi yang lain, belajar memulai sesuatu
yang baru, tanpa harus takut akan sebuah kegagalan. Mengajari ku untuk selalu berani
mengambil resiko atas apa yang aku lakukan, jika tidak mencoba memulai, mungkin
aku tidak akan tahu rasanya sebuah perjuangan.
Dan menurut ku,
KEDUA ORANG TUA
KU MERUPAKAN ALASAN TERBESARKU UNTUK BISA SUKSES.
💘💘💘💘💘


Komentar
Posting Komentar